Articles by "Seni Budaya"

Sejarah Banjar paralel dengan sejarah kebudayaannya. Dalam sejarah Banjar yakni pada zaman kuno di Kalimantan Selatan ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan yang dikisahkan dalam ceritera bersambung dari mulut ke mulut berupa hikayat. Hal ini disebabkan belum adanya suatu penelitian yang mendalam tentang situasi pada za­man tersebut.

"Sumber Foto : http://kebudayaanindonesia.net/media/
images/upload/culture/candi-agung-amuntai1.jpg"

Tentang kesenian jenis yang disebutkan hikayat Banjar antara lain adalah merakit, bahdrang, baokal, bajoget, bahigal radap, manopeng, jenis-jenis baksa seperti baksatumbak, baksa panah, baksa dadap, baksa tameng, baksa kantar, baksa hupak, baradap.

Sebelum muncul kerajaan Negara Dipa dapat diperkirakan bahwa pada zaman perundagian telah terdapat desa-desa besar di pantai kaki pegunungan Meratus yang lambat laun berkembang menjadi kota-kota bandar dalam perhubungan perdagangan laut dengan India dan Cina dan perdagangan interinsuler.

Konsentrasi populasi terdapat selanjutnya dengan pertumbuhan pantai dan aliran sungai Tabalong sebagai daerah yang terpadat penduduknya. Kemungkinan sekali di sekitar abad ke-5 atau 6 Masehi telah muncul kerajaan Tanjungpuri sebagai pusat kolonisasi orang-orang Melayu yang berasal dari Sriwijaya. Mereka membawakan bahasa dan kebudayaan Melayu sambil berdagang. Mereka kemudian mengembangkan diri bercampur dengan penduduk sekitarnya yang terdiri dari suku-suku Maanyan, Lawangan dan Bukit.

Besar kemungkinan bahwa Melayu pendatang yang berasimilasi itu masih menumbuh kembangkan kesenian Melayu. Dan ketika Tanjungpuri lenyap maka tumbuh kerajaan Negara Dipa yang dibantu oleh orang-orang Jawa dari Kediri Utara. Kebudayaan Jawa dalam kehidupan masyarakat istana dan sekitarnya berpadu dengan kebudayaan Mela­yu dan kebudayaan Maanyan, akan tetapi karena keraton Negara Dipa lebih mendominasi adat tradisi Budaya Jawa, maka masyarakat seki­tar juga dipengaruhi hal yang demikian.

1. Seni Rupa

Walaupun mengenai seni rupa yang berkembang tidak begitu jelas namun secara asumsi dapat diperkirakan bahwa seni patung sederhana seperti zaman neolithikum tetap berjalan.

a. Seni Bangunan
Negara Dipa dan Negara Daha masing-masing mempunyai peninggalan berupa Candi Agung di Amuntai dan Candi Laras di Margasari. Dari berbagai tinggalan yang ditemukan di situs candi Laras di Margasari, menunjukkan bahwa kepercayaan yang berkembang saat itu adalah Hindu Siwa.
Seluruh candi Laras kini hampir tak tersisa bangunannya kecuali fondasi dalam tanah. Lima ratus meter ke sebelah Timur terdapat situs pematang bata; tidak diketahui secara pasti bentuk dan fungsinya. Ada kemungkinan sebagai sebuah “petirtaan”, terbuat dibuat dari susunan batu bata sejenis dengan bata yang ada di candi Agung, Amuntai.

"Sumber Foto : http://www.ciputranews.com/media/images/
2015/09/ciputranews_1441245989.jpg"

Di dalam "Tutur Candi" dikatakan bahwa untuk kediaman Puteri Junjung Buih dibuat mahligai dengan pilar-pilar batung batitis (patung berukir). Bagaimana bentuk-bentuk motif mahli­gai tersebut, belum diketahui. Secara imajinatif, mahligai Putri Junjung Buih itu bertiang tinggi seperti budaya "rumah Betang", dan miniatur mahligai-nya mungkin seperti Balai Warti un­tuk pengantin bersanding sekarang ini.
Negara Dipa adalah kerajaan maritim disamping agraris. Hubungan dagang dan pelayaran yang tidak saja datang dari Jawa, Sumatera, Malaya, juga Cina dan Asia Tenggara. Mungkin tradisi Banjar abad ke-17 yang berlayar dan berdagang sampai ke Siam juga berasal dari zaman Negara Dipa atau sebelumnya.
Migrasi-migrasi akibat hubungan ke luar membuat Kalimantan Selatan selalu menjadi "meltingpot" yang berlanjut dalam pembuatan “manusia-manusia baru” yang berkebudayaan sungai yang diwarisi oleh orang-orang Banjar kemudian.
Bangunan rumah-rumah penduduk di Negara Dipa diasumsikan bagaimana tempat tinggal penduduk asli yakni rumah Betang bertiang, memakai bubungan "pisang sasikat" dan menghadap sungai. Adanya motif lain yakni pada rumah-rumah pendatang yang menghadap ke su­ngai, karena kebutuhan transportasi sungai dalam arus perdagangan.

b. Seni Arca
Di Candi Agung tidak ditemukan arca, namun di Candi Laras dan sekitarnya terdapat sisa arca Dipangkara, potongan lingga dari batu bazalt merah dan pecahan yoni. Dipangkara berarti dian (penerang) atau pembawa cahaya. Dipangkara merupakan salah satu Budha dalam kelompok Manusia Budha yang khusus terdapat dalam aliran Lamaisme, yaitu bentuk pengembangan Budha Mahayana Tibet. Kemungkinan arca itu dibawa oleh orang-orang Melayu dari Sriwijaya sekitar abad ke-7 masehi. Hal ini berkaitan dengan temuan fragmen prasasti berinskripsi Jayasiddha dan arca Dipangkara itu sendiri sebagai arca Budha. Prasasti berinskripsi Jayasidha ditulis dalam aksara Pallawa atau Wenggi dan bahasa Sanskerta. Kata ini Jayasidha mengandung anasir magis kebudhaan yang mengungkapkan keberhasilan perjalanan ziarah untuk memperoleh berkah atau kekuatan gaib.

c. Seni Ukir
Yang termasuk seni rupa juga adalah seni ukir. Diperkirakan motif ukiran yang ada sekarang adalah sebagian peninggalan zaman Hindu Budha dan Siwa. Motif ukiran pada umumnya terdapat pada kayu, perhiasan, logam kuningan dan kulit binatang. Motif ornamen terdapat pada anyaman-anyaman tikar, anyaman bakul butah, lanjung dan alat rumah tangga lainnya. Tatah ukir pada kulit binatang sudah berkembang lewat tatah wayang kulit.
Beberapa motif ukiran (ornamen) pada masa kebudayaan Hindu mempunyai arti tertentu, misalnya:
  • motif teratai melambangkan kesucian dan kekuasaan
  • motif pucuk rabung melambangkan wawasan tinggi
  • motif bunga bogam melambangkan hidup terpandang
  • motif kemala melambangkan status derajat tinggi
  • motif gigi haruan melambangkan kewaspadaan
  • motif talipuk melambangkan keselarasan lahir batin
  • motif tali berpilin melambangkan nilai kesetiaan
  • motif burung enggang melambangkan kebangkitan
  • motif sindat melambangkan keterikatan kesatuan
  • motif ular naga melambangkan keperkasaan mendukung wibawa
  • motif ular lidi melambangkan keapikan nurani
  • motif buah manggis melambangkan kejujuran
  • motif daun jaruju melambangkan penjagaan diri
  • motif lipan melambangkan mawas diri.
d. Seni Lukis
Pada zaman kebudayaan Hindu, seni lukis tidakbanyak yang tersisa. Asumsi bahwa lukisan dengan sulaman manik-manik air guci sudah berkembang pada zaman ini, karena motif-motif ukiran mirip dengan sulaman manik-manik, terutama pada motif hiasan pada dinding air guci dan tapihair guci serta baju wanita. Batik ikat sasirangan juga berasal dari zaman ini, dengan dilukis pada kain dan diikat sebelum dicelup pewarna. Hal ini sampai sekarang masih dilakukan wanita-wanita di aliran sungai, yang dipercaya mengandung magis budaya leluhur.

2. Seni Sastra

Mengenai seni sastra di abad-abad pertama sampai dengan abad ke-14 masih gelap. Yang jelas seni itu telah ada sejak kerajaan Tanjung Puri dan terus berkembang hingga ke masa Kerajaan Banjar.
Sastra lisan berupa ceritera rakyat hidup dari mulut ke mulut yakni andi-andi di sawah ketika panen dan andi-andi sebelum tidur. Umumnya ceritera rakyat ini muncul di pedesaan agraris. Beberapa buah di antaranya dapat disinopsiskan sebagai berikut:

a. Sangiang Gantung
Terceritera adalah Raja kerajaan Hilir Margasari gemar memakan lauk dari masakan perut ayam. Tukang masak kewalahan dan digantinya dengan cacing. Saban hari Raja minta karena merasa lezat bukan main.
Suatu hari cacing-cacing keluar dari dalam tanah, hingga ba­nyak rakyat tertimbun cacing. Raja pun mati tertimbun cacing. Setelah cacing-cacing menghilang, maka para abdi raja menggantung jenazah raja di pohon jingah besar atas permintaan tuan puteri, ka­rena tuan puteri pernah dipesani raja bahwa kalau baginda meninggal harus digantung, jangan dikubur. Sampai sekarang pohon jingah besar di situ disebut orang "Sangiang Gantung”.

b. Intingan dan Dayuhan   
Intingan dan Dayuhan dua bersaudara. Intingan pintar bijaksana dan Dayuhan dungu tapi jujur. Di dalam banyak versi ceriteranya Intingan yang pintar selalu dengan sukarela membimbing adiknya Dayuhan, namun Dayuhan tak pernah bisa juga.

c. Ular Dandang
Ketika seekor burung liar Garuda menyerang kerajaan, adalah seekor ular bernama Dandang ingin memperisteri puteri raja dengan melamar salah seorang. Puteri tujuh tidak berkenan, kecuali puteri bungsu yang bersedia pada akhirnya.
Ular Dandang keluar dari "sarungya" menjadi raja sakti dan Garuda dibunuhnya. Kemudian ia membangun kerajaan yang lengkap dengan istana dan hamba sahayanya.

d. Batu Balah Batu Batangkup
Seorang ibu sakit hati dan putus asa karena amarah terhadap dua orang anaknya yang menghabiskan makanan kesayangannya berupa, pais hati bakut. Ia pergi ke tempat batu sakti, kemudian berkata :

"Batu balah batu batangkup 
Tangkupakan badanku nang cilaka
Tagkupakan badanku nang kapuhunan hati bakut
Maka badan ibu itu ditangkup oleh batu saktiitu hingga mati 
Si anak yang melihatitu menyesali diri mereka dan menganggap ibunya "kepuhunan"

e. Sandah Gelar Puteri Ambang Kapas
Seorang puteri raja yang besar badannya menaruh cinta kepada Raden Enu. Ia mengejar Raden Enu dan terperosok ke dalam gua sempit, la mati dan menjelma sebatang kayu Tangkalupa. Masyarakat sampai sekarang menghindari pohon itu karena dianggap ada hantunya.

f. Kisah Batu Banawa
Anak lelaki Diang Ingsun pergi merantau, dan pulang sebagai Raden Pangantin beristrikan puteri seberang. la tidak mengakui Diang Ingsun sebagai ibunya. Diang Ingsun berdoa semoga Tuhan membuktikan dirinya sebagai ibu. Maka turun angin topan yang membuat kapal dan seisinya menjadi batu, Demikian kisah anak durhaka.
Masih banyak lagi kisah andi-andi dan mungkin berasal dari zaman Hindu budha, dengan ciri kepercayaan sejenis mitos.

3. Seni Teater

Mungkin sekali pada zaman kerajaan Negara Dipa dan kemudian kerajaan Negara Daha, seni teater sebagai seni pertunjukan yang ber­asal dari Jawa juga hidup di kalangan istana. Seni ini dikembangkan oleh imigran dari Jawa yakni Mpu Jatmika yang mendirikan Negara Dipa,. Dengan masuknya bangsawan Jawa ini, unsur-unsur budaya keraton Jawa pun ikut masuk ke Kalimantan Selatan.

a. Wayang kulit
Wayang kulit pada masa itu masih murni budaya Jawa dengan ceritera Mahabarata atau Ramayana.

b. Wayang Wong
Wayang Wong dimainkan oleh orang-orang dari Jawa di istana. Menurut Dr. GAJ Hazeu dan J.L.A. Brandes yang meneliti kesenian wayang, diperoleh suatu kesimpulan bahwa kesenian wayang di Indonesia berinduk pada kesenian asli Jawa, meskipun ceritera yang ditampilkan disadur dari kebudayaan Hindu. (Suryadi,1981:13)
Sesuai dengan Hikayat Banjar yang menyebutkan bahwa wayang sudah tumbuh di Kalimantan Selatan sejak adanya Kerajaan Negara Dipa, “... bawayang Wong, manopeng, bawayang Gadogan, bawayang Purwa, babaksan ....” merupakan kesenian yang biasa dipertunjukan di kerajaan itu" (Suryadikara, 1992:12).

c. Dalang Topeng
Teater Dalang Topeng adalah perkembangan dari tarian manopeng. seorang Dalang sebagai narasi yang berceritera dan melaksanakan antar dialog pemeran bertopeng. Ceritera yang dibawakan ada­lah ceritera Panji.

4. Seni Musik dan Seni Suara

Seni musik pada zaman Hindu Budha tidak begitu jelas. Namun terdapat gamelan yang diberi nama Srinting Badayu yang dibawa Empu Jatmika dan menjadi kesenian istana Negara Dipa.
Lagu-laguan atau tembang yang dibawakan pesinden tercatat tembang Paksi Muluk, Jajaka, Romiyang, Mandung, Sitro, Cindro, Murda, Gandang Mirung, dan lain-lain, sebagai tembang menyambut tamu.

5. Seni Tari

Di dalam Hikayat Banjar disebutkan adanya gamelan seperti yang disebutkan di atas. Di samping seni tari maka setiap upacara tertentu dinyanyikan tembang-tembang yang diirigi gamelan selendro. Hal tersebut dikatakan dan menjadikan orang “pargamalan ampat puluh kadangan mantrinya Astaprani."
Tari Baksa yang beragam namanya seperti Baksa panah, Baksa Dadap, Baksa Tumbak, Baksa Tameng, Baksa Kantar, Baksa Kupu-kupu, diiringi oleh pargamalan empat puluh orang.
Kemungkinan tari rakyat yang didukung oleh rakyat yang masih memelihara tari tradisional mereka seperti tari Gantur Balian, juga masih dipergelarkan ketika upacara sehabis panen.
Walaupun Hikayat Banjar dan Hikayat Raja-raja Banjar Kotawaringin belum dapat memberikan gambaran yang jelas tentang seni tari dan musik, namun disebutkan bahwa ketika Negara Daha diperintah oleh Pangeran Temenggung seni tari klasik Jawa Majapahit masih digelar.
Bandar kerajaan Negara Daha berpindah dari pedalaman (Margasari) ke muara sungai dan mendekati laut yaitu di Muarabahan (Marabahan sekarang), seniman dan budayawan Negara Daha juga ikut serta. Menurut Sarbaini dari desa Barikin Hulu Sungai Tengah, Datu Taruna sebagai sepuh di Barikin dan sekitarnya, mengirim adiknya ke Muarabahan untuk memperdalam permainan Wayang dan tari Topeng untuk diturunkan di Barikin. Diperkirakan saat itu kurang lebih tahun 1525, Barikin sudah menjadi sentra kesenian di bawah pimpinan Datu Taruna.

Sumber: Modul Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Kalimantan Selatan

Tidak dapat dipungkiri bahwa seni cadas (rock art) merupakan salah satu bentuk data arkeologi yang amat penting untuk mengungkapkan kehidupan dan budaya manusia masa lampau, khususnya pada zaman prasejarah. Seni cadas atau sering disebut lukisan dinding gua tidak saja dianggap sebagai tinggalan yang dapat memberikan informasi tentang tatacara hidup manusia, akan tetapi sering juga dilihat sebagai bukti pencapaian citarasa seni manusia di masa lampau. Keluasan sebaran temuan seni cadas yang mencakup hampir ke seluruh pelosok dunia (Eropa, Afrika, Asia, Australia, Pasifik hingga Amerika), telah memberikan kesan bahwa seni cadas merupakan ungkapan seni yang universal (Tanudirjo, 1996).

Memang, secara eksplisit kesenian dari masa prasejarah sulit untuk dijelaskan. Diawali pada masa manusia hidup di gua-gua ataupun ceruk-ceruk tadah angin, di situlah “kesenian” manusia prasejarah mulai dapat diketahui, yaitu dengan ditemukannya gambar-gambar cadas atau lukisan pada dinding gua ataupun ceruk-ceruk tadah angin tersebut. Oleh seorang perupa, gambar cadas atau lukisan dinding gua yang juga sering disebut dengan istilah rock art paintings, ditafsirkan sebagai hasil ungkapan kejiwaan (emosi) seseorang yang mempunyai nilai-nilai seni. Gambar manusia, perahu, matahari, ataupun binatang dilukiskan secara sederhana atau bahkan hanya dalam bentuk sketsa, yang dapat dibandingkan dengan hasil lukisan dari seorang anak usia Taman Kanak-Kanak.

Lukisan dinding gua yang digambar secara sederhana di atas tidak berarti merupakan gambar yang dilukis oleh seorang anak usia Taman Kanak-Kanak. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pemikiran manusia prasejarah yang masih sederhana dalam mengekspresikan sesuatu objek. Pemikiran sederhana seperti di atas masih dapat dilihat hingga masa-masa yang lebih kemudian bahkan hingga sekarang, seperti penggambaran lambang atau simbol-simbol yang bersifat magis-religius. Patung-patung dan balontang pada etnis Dayak hingga sekarang masih digambarkan secara sederhana, sekalipun saat ini telah tersedia para seniman patung yang dapat membuat patung manusia secara sempurna.

Untuk seni tari, seni suara dan lainnya juga dalam kasus yang sama dengan apa yang telah dijelaskan di atas. Bentuk gerakan dan ucapan yang mempunyai ritme-ritme tertentu yang tertuang dalam gerak tarian dan nyanyian semata-mata berdasarkan suatu tujuan yang mengandung nilai lain, sekalipun semua itu diungkapkan dari emosi kejiwaan yang bersifat sentimental penuh dengan perasaan. Sehingga sampai sekarang masih dikenal tarian perang, tarian saat akan berburu, tarian untuk arwah dan sebagainya yang masih ditemukan khususnya pada masyarakat Dayak di Kalimantan. Secara etnografis, tinggalan tersebut merupakan sisa-sisa hasil kesenian dari masa prasejarah di Kalimantan.

"Sumber Foto : https://bubuhanbanjar.files.wordpress.com/2011/04/untitled-scanned-08.jpg"

Masyarakat Dayak, membuat karya seni yang sangat sederhana dalam ragam hias. Penciptaan lebih mengarah pada fungsi religius dalam bentuk lambang-lambang yang berkaitan dengan konsep kepercayaan yang mereka anut. Konsep tersebut berhubungan dengan alam arwah, mitologi dan kosmologi. Motif-motif yang terdapat pada tiang sandung, tiang sanggaran dan tiang sapundu berbentuk sulur-suluran dan geometris. Motif ini mempunyai makna sebagai pengikat arwah agar tidak bergentayangan mengganggu yang hidup. Motif perahu digambarkan pada peti mati (raung), papan bernama tingang dan bangunan induk sandung sebagai simbol kendaraan yang akan membawa arwah dalam perjalanan menuju surga.

Ragam hias fauna seperti naga, tambun, jata, burung tingang, menggambarkan kosmologi yang terdiri dari alam atas, alam tengah dan alam bawah. Motif sanghari dan bintang bacarang melambangkan sinar kehidupan yang dicita-citakan setiap orang, terdapat pada ragam hias bakul arangansebagai wadah untuk upacara aruh ganal pada masyarakat Bukit Loksado. Motif lainnya menggambarkan flora, fauna dan manusia yang kesemuanya mempunyai makna dan simbol-simbol tertentu. Motif ukiran simbol penolak bala digambarkan dalam bentuk kedok dengan wajah yang menakutkan terdapat pada alat menggendong anak suku Dayak Ngaju yang disebut Baning Aban. Simbol tersebut dimaksudkan untuk menjaga si anak dari gangguan roh arwah, hantu-hantu dan roh binatang. Simbol penolak bala bagi masyarakat Banjar terlihat pada ragam hias ukiran rumah Banjar yang terdapat pada pilis dengan motif daun jaruju, pada dahi lawang dengan motif Banaspati (kala).

Katundang sebagai alat kerja ladang berpindah masyarakat Dayak untuk melubangi tanah tempat bibit padi, kalau dihentakkan menimbulkan bunyi-bunyian yang cukup merdu, akhirnya digunakan untuk alat musik. Dari bunyi-bunyian tersebut terkandung harapan untuk meminta hujan guna mengairi ladang mereka. Hal ini mengingatkan pada kita pada fungsi genderang nekara pada masa prasejarah.

Pada seni tari, walaupun gerakan tidak dinamis tapi mengekspresikan emosi yang meluap-luap sebagai harapan dan tanda syukur kepada Mahatala, tergambar melalui hentakan kaki yang kuat dan keras pada tari Balian, Bakanjar, Babangsai, tari Gantar dan sebagainya. Tarian ini biasanya disertai nyanyian dengan ritme yang teratur dan nada rendah berupa mamang oleh pemimpin upacara diselingi dengan teriakan-teriakan oleh penari. Secara etnografis, tinggalan tersebut merupakan sisa-sisa hasil kesenian dari masa prasejarah di Kalimantan.

Sumber: Modul Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Kalimantan Selatan

Salah satu unsur universal kebudayaan adalah kesenian. Karya seni sebagai karya budaya yang luhur mengandung nilai-nilai keindahan. Karena itu mencipta seni bukan sekedar improvisasi melainkan idealisme keindahan yang tinggi.

"Sumber Foto : http://pulaubanuabanjar.com/image/SinomanHadrahMtp.jpg"

Ditinjau dari garapannya ada lima cabang seni yaitu Seni Rupa, Seni Sastra, Seni Tari, Seni Teater, dan Seni Musik. Ada yang mengklasifikasi seni pertunjukan yakni seni tari, seni musik dan seni teater. Seni sastra menjadi seni teater bila dipertunjukan dan senantiasa melibatkan seni rupa. Oleh karena itu, lima cabang seni itu saling berkorelasi, saling keterkaitan sa­tu dengan yang lain.

"Sumber Foto : http://pariwisata.banjarkab.go.id/foto_berita/73fgj.jpg"

Di dalam sejarah kebudayaan manapun, sudah barang tentu memuat sejarah kesenian. Sejarah kesenian Banjar tidak terlepas dari sejarah keseniannya. Sejarah kebudayaan Banjar paralel dengan sejarah perkembangan "Urang Banjar", dimana bermula adanya pembauran etnik Melayu sebagai etnik dominan, dengan unsur etnik Bukit, Ngaju dan Maanyan.

Perpaduan etnik lama kelamaan menimbulkan perpaduan kultural; unsur Melayu sangat dominan dalam bahasa Banjar. Demikian pula dengan kesenian Banjar tentu saja merupakan kesenian yang dihasilkan oleh asimilasi dari pengaruh sosial politik kesejarahan dalam kurun waktu yang sangat lama.

Rangkuman sejarah kesenian Banjar secara sitematis akan dibicarakan pada: 

Sumber: Modul Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Kalimantan Selatan

Tugas kita barataan..
Mamalihara lawan manjaga..
Kabarasihan banua kita..

Tuha anum kah kada katinggalan..
Sabarataan taumpat umpat jua..
bakawajiban mamalihara..

Jangan pang kulir..
Bila disuruh alih nang tuha babarasih..
Jangan manambah rigat..
Mambuang ratik bahambur nang sambarangan..

Nang sakira..
Nyaman dilihat mata..
Nang sakira..
Barabai nyaman dirasa..

Bila barasih nang tapalihara..
Higa mahiga kadada ratiknya..
Bajauh panyakit..
Bajauh pulang lawan bahaya..


Karya Khairani Zain

 
   Ilustrasi berasal dari bahasa Latin Ilustrate yang berarti menjelaskan. Jadi gambar ilustrasi merupakan karya seni rupa dua dimensi yang bertujuan untuk memperjelas suatu pengertian. Gambar ilustrasi memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai berikut. 

1.   Memperjelas alur atau isi cerita. 
2.   Memperjelas isi pesan dalam promosi suatu barang. 
3.   Menarik perhatian. 
4.   Menambah nilai artistik/keindahan. 
5.   Media pengungkapan perasaan penggambarnya. 

      Media Pembelajaran di bawah ini akan menjelaskan materi pelajaran Gmabar Ilustrasi pada SMP kelas 8. Mari kita mainkan media pembelajaran dibawah ini, semoga bermanfaat untuk anak didik kita.

Sangu Batulak
di Populerkan Oleh Penyanyi : H. Anang Ardiansyah

Pisang silat pisang timbatu
Kuganganakan bacampur cuka
Mun jadi tulak apa sanguku
Sahibar doa iman didada

Sambah sujud ampuni dosa
Kasih satumat dalam dunia
Kilir kiliran sibanyu mata
Kampung nang jauh bakal kutuju
Kampung nang jauh kutuju

Mulai lawan bismillah
batis nang kanan kulangkahakan
Lalu tawakkal alallah
Itu pang jadi sanguku

Mulai lawan bismillah
Batis nang kanan kulangkahakan
Lalu tawakkal alallah
Itu pang jadi sanguku

sambah sujud ampuni dosa
Kasih satumat dalam dunia
Kilir kiliran si banyu mata
Kampung nang jauh bakal kutuju
Amal wan iman sanguku


Ya Allah ........... Ya Allah .............

Syukur
Ciptaan: H. Mutahar

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan

Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan

Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan

Kehadapanmu tuan

Indonesia Raya
Lagu Kebangsaan Indonesia
Cipt. W.R. Supratman

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu Ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget